Tim Pencegahan Satgaswil NTT Densus 88 Antiteror Polri, Sosialisasikan Bahaya Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme dan Terorisme (IRET), Pada 339 siswa kelas XI dan XII MAN Manggarai Barat

Tim Pencegahan Satgaswil NTT Densus 88 Antiteror Polri saat memberikan sosialisasi mengenai bahaya Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme (IRET) kepada 339 siswa kelas XI dan XII MAN Manggarai Barat di Aula MAN Manggarai Barat, Labuan Bajo, Kamis (6/8/2026).Foto Iron

LABUAN BAJO – Bermain game online, membuka media sosial, atau bergabung dalam grup percakapan telah menjadi bagian dari keseharian hampir setiap remaja. Aktivitas itu tampak biasa dan identik dengan hiburan. Namun, di balik ruang digital yang akrab dengan kehidupan anak-anak, kelompok penyebar paham radikal kini menemukan cara baru untuk mencari anggota.

Mereka tidak lagi mengandalkan pertemuan rahasia atau pengajian tertutup seperti beberapa tahun lalu. Perekrutan kini berlangsung secara perlahan melalui layar telepon genggam. Modusnya nyaris tidak menimbulkan kecurigaan. Perekrut hadir sebagai teman bermain game, rekan berdiskusi di media sosial, atau akun anonim yang terlihat ramah, peduli, dan mudah dipercaya.

Percakapan biasanya diawali dengan hal-hal sederhana, mulai dari membahas permainan, hobi, musik, hingga cerita kehidupan sehari-hari. Ketika hubungan mulai terbangun dan korban merasa nyaman, komunikasi kemudian dipindahkan ke ruang yang lebih tertutup melalui WhatsApp, Telegram, atau platform digital lainnya. Di sanalah proses indoktrinasi dilakukan secara bertahap, perlahan mengubah cara berpikir korban tanpa disadari.

Fenomena tersebut menjadi perhatian utama Tim Pencegahan Satgaswil NTT Densus 88 Antiteror Polri saat memberikan sosialisasi mengenai bahaya Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme (IRET) kepada 339 siswa kelas XI dan XII MAN Manggarai Barat di Aula MAN Manggarai Barat, Labuan Bajo, Kamis (6/8/2026). Kegiatan itu juga dihadiri Kepala MAN Manggarai Barat Muhammad Wahidsin bersama 63 guru dan tenaga kependidikan.

Membuka kegiatan, Kepala MAN Manggarai Barat, Muhammad Wahidsin, mengatakan perkembangan teknologi digital menghadirkan tantangan baru yang semakin kompleks bagi dunia pendidikan. Arus informasi bergerak sangat cepat dan dapat diakses oleh siapa saja. Namun, tidak semua informasi membawa dampak positif bagi perkembangan generasi muda.

"Informasi kini bergerak sangat cepat dan dapat diakses siapa saja. Namun tidak semua informasi membawa dampak positif bagi perkembangan peserta didik," ujarnya.

Menurutnya, sekolah memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada sekadar menyampaikan materi pelajaran. Lembaga pendidikan juga harus membentuk karakter, menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, serta memperkuat daya tangkal siswa agar tidak mudah dipengaruhi berbagai ideologi yang menyesatkan.

"Kami berharap kerja sama ini tidak berhenti sampai di sini. Edukasi seperti ini sangat penting agar peserta didik memiliki daya tangkal terhadap berbagai paham menyimpang yang mengancam masa depan mereka," ungkapnya.

Peringatan yang lebih mendalam kemudian disampaikan Katim Pencegahan Satgaswil NTT Densus 88 AT Polri, Iptu Silvester Guntur. Menurutnya, perubahan terbesar saat ini bukan terletak pada ideologi yang disebarkan, melainkan pada cara kelompok radikal merekrut anggota. Jika dahulu perekrutan dilakukan secara langsung, kini proses itu berlangsung di ruang digital yang setiap hari diakses anak-anak.

"Anak-anak menjadi target utama karena lebih mudah dipengaruhi. Perekrutan biasanya diawali dengan membangun pertemanan melalui media sosial atau game online. Setelah korban merasa nyaman, mereka diarahkan masuk ke grup WhatsApp, Telegram atau platform tertutup lainnya untuk menjalani proses indoktrinasi," jelasnya.

Silvester menjelaskan, propaganda kini tidak lagi disampaikan melalui ceramah yang mudah dikenali. Konten dirancang semenarik mungkin agar terasa seperti hiburan. Video pendek, animasi, meme, musik, hingga potongan gambar kekerasan diproduksi untuk membangkitkan emosi, menumbuhkan rasa simpati, lalu perlahan mengubah cara pandang korban terhadap kekerasan.

Ia menegaskan ancaman tersebut bukan lagi sekadar dugaan. Secara nasional, sedikitnya 150 anak pernah terpapar paham radikal dan 13 anak diketahui terlibat dalam tindak pidana terorisme. Di Nusa Tenggara Timur, Densus 88 juga menemukan anak-anak yang telah terpapar ideologi radikal melalui internet.

Selain itu, Densus 88 mencermati munculnya True Crime Community (TCC), komunitas digital yang menyebarkan ideologi kekerasan kepada anak-anak. Secara nasional, sedikitnya 70 anak diketahui telah terpapar melalui komunitas tersebut.

Menurut Silvester, kelompok-kelompok tersebut tidak memilih sasaran secara acak. Mereka justru membidik anak-anak yang sedang berada dalam kondisi psikologis yang rentan. Korban perundungan, anak dari keluarga yang tidak harmonis, mereka yang kurang mendapat perhatian orang tua, kecanduan gawai, hingga anak yang terpapar pornografi menjadi kelompok yang paling mudah dipengaruhi.

"Bullying menjadi salah satu pintu masuk yang paling berbahaya. Anak yang frustrasi jauh lebih mudah dimanfaatkan oleh kelompok penyebar ideologi kekerasan," ungkapnya.

Ia menjelaskan, anak yang telah terpapar biasanya mulai menunjukkan perubahan perilaku. Mereka mengagumi pelaku penyerangan, menikmati konten kekerasan, menggunakan simbol-simbol ekstrem, hingga saling bertukar informasi mengenai cara membuat bom, senjata api rakitan, senjata tajam, bahkan menyusun rencana balas dendam terhadap orang yang dianggap sebagai pembuli.

Silvester menegaskan, tidak ada seseorang yang tiba-tiba berubah menjadi pelaku teror. Semua berawal dari perubahan cara berpikir yang berlangsung perlahan dan sering kali tidak disadari.

"Terorisme adalah sebuah proses. Dimulai dari intoleransi, berkembang menjadi radikalisme, kemudian ekstremisme, dan berujung pada terorisme. Kalau fase intoleransi tidak dicegah sejak awal, maka proses itu akan terus berkembang," katanya.

Meski demikian, ia mengingatkan agar masyarakat tidak mengaitkan terorisme dengan agama tertentu. Menurutnya, akar persoalan bukanlah agama, melainkan proses manipulasi yang memanfaatkan kerentanan seseorang hingga menerima kekerasan sebagai sesuatu yang benar.

"Semua orang berpotensi terpapar apabila tidak memiliki ketahanan diri. Karena itu jangan pernah mengaitkan terorisme dengan agama tertentu," Pungkasnya.*** Iron

Penulis:

Baca Juga