Sehabis Lantik Kades di Matim

Atas kebijakan bupati itu, ada pihak yang tak bahagia. Ada pro-kontra. Itu terjadi karena ada pihak yang memaknai kebijakan Pelantikan Kades itu sebagai peristiwa politis, bukan pelayanan publik. Komentar tersebut diduga untuk panggung Pileg 2024. Di atas panggung itu, politisi menjadi menggunakan topeng pengamat, rohaniwan dan “polisi” keuangan. Mungkin itulah demokrasi: setiap ada terobosan pasti dikomentari.

Sayangnya, semua komentar itu telah menjadi angin lalu. Kata pepatah, “anjing menggongong, kafila berlalu”. Proses Pelantikan Kades terpilih tahun 2023 sudah selesai dan aman-lancar. Pemimpin desa sudah ada; pesta sudah dirayakan. Bahkan politisi yang “bermulut pedis” itu ikut bergoyang dan menyumbangkan suara saat berpesta.

Sekarang, para Kades sudah mulai bekerja. Meraka menjadi pelayan untuk semua warga desanya. Dalam pelayanan dan kebijakannya, sang Kades harus mengikuti semua peraturan perundang-undangan yang berlaku. Ikut aturan itu selurus-lurusnya, setegak-tegaknya. Mengutip kalimat Kades Compang Soba, Gregorius Jaka, A.Md dalam sebuah diskusi, “dalam pelayanan desa, peraturan adalah panglima. Melawan perintah panglima, kita tergelincir”. Ada benarnya juga, sebab loyalitas vertikal Kepala Desa adalah aturan.

Dengan adanya aturan, seorang Kades dapat dengan aman melaksanakan mandat. Aturan membikin seorang Kades kian arif dalam membuat kebijakan untuk mensejahterakan masyarakatnya. Improvisasi kebijakan (:konteks lokalitas) dibolehkan sejauh masih dalam koridor peraturan perundangan-undangan yang berlaku. Itulah makna kaidah self-governing community dalam UU No. 6 Tahun 2016.

Dengan begitu, layanan publik menjadi lebih dekat; penciptaan dan akses terhadap pekerjaan lebih mudah; pemerataan pembangunan lebih cepat tercipta; pemberdaayan ekonomi keluarga dan perempuan lebih ditingkatkan. Semuanya bermuara pada pemangkasan kemiskinan (eradicating poverty). Karena kondisi miskin itu bukan takdir, mari kita lawan bersama-sama.
Akhirnya, selamat berkarya, pak Kades! Pesta bersama sudah selesai. Mulailah dengan spirit “desa membangun”. Tabe.

Selanjutnya 1 2 3
Penulis: Alfred Tuname

Baca Juga