Team Indensos Densus 88 Sambangi Desa Watu Wangka; Warga Sepakat Tolak Khilafatul Muslimin
Dalam melakukan proses indoktrinasi, kelompok Khilafatul Muslimin menggunakan tiga metode, Yakni sy'ar perguruan beladiri lebah putih, kajian online dan melalui institusi pendidikan (pondok pesantren ukuwah islamiyah; setingkat SD disebut UBA-Usman Bin Affan, stingkat SMP disebut UBK-Umar Bin Khattab, setingkat SMA disebut ABA- Abu Bakar As Sidiq, setingkat perguruan tinggi diaebut ABAT-Ali Bin Abi Thalib).
"Kajian- kajian khusus dan menanamkan semangat Jihad fi sabilillah biasanya dilakukan dalam latihan beladiri " kata SG, selaku pemateri dari Team Idensos SGW NTT Densus 88 AT Polri.
Dalam menjalankan kajian-kajian online, terdapat beberapa website yang dipakai oleh kelompok khilafatul muslimin, seperti puji Chanel, jamiah ABAT Mapin, Mujahid I'lam, Khilafatul Muslimin, Sy'ar Khilafa Dunia dan lainnya.
"Biasanya anak-anak kita rentan dengan kajian-kajian on line seperti ini. Tiba-tiba anak tidak mau bergaul dengan tetangga, mengkafir-kafirkan tetangga bahkan orang tuanya sendiri, padahal tidak bergabung dengan kelompok atau mengikuti kajian tertentu, bisa jadi terpapar karena kajian online seperti ini" tandas SG.
Melalui institusi pendidikan yang dibangun, proses indoktrinasi berjalan masif. Materi pendidikan yang diberikan tidak sesuai dengan kurikulum baku, seperti yang diajarkan pada lembaga pendidikan serupa. Bahkan alumnus dari pondok pesantren milik Khilafatul Muslimin ini tidak mengantongi Ijazah, sehingga outputnya kesulitan mencari pekerjaan setelah dinyatakan lulus.
"Ada 9 orang kita [Manggarai Barat] yang tamat dari pondok ini, tapi tidak memiliki Ijasah. Saat kita dekati, hampir semuanya frustasi karena tidak bisa melamar pekerjaan. Dalam kondisi frustasi ini sangat mudah bagi mereka untuk menjadi pelaku terorisme" ungkapnya.
Adapun modus operandi organisasi ini bisa menyusup ke dalam masyarakat, melalui aktifitas pembangunan masjid dan pengajian.
"Mereka tampil seolah-olah humanis dan toleran. Mereka melakukan pengajian ke masjid-masjid dan aktif dalam kegiatan sosial termasuk membangun masjid, semuanya itu dilakukan untuk menarik simpati dan dukungan masyarakat [fase membangun kecintaan dan ketaatan]." Tandas SG.
Organisasi Khilafatul Muslimin ini juga, menurut SG pandai sekali menyembunyikan niat hati mereka yang sesungguhnya dan memperlihatkan hal berbeda dengan apa yang ada dalam hatinya atau 'takiyah'.
"Kalau orang-orang [anggota khilafatul Muslimin] ini ditanyai, 'apakah mereka ingin mengganti Pancasila dengan sistem kehilafaan?' Mereka selalu bertakyah, dengan mengatakan bahwa mereka siap mempertahankan Pancasila dan NKRI. Mereka juga kerap menjelaskan bahwa sistem kekhalifahan ini sama halnya dengan sistem Kepausan dalam hirarki gereja khatolik, sehingga banyak kalangan menganggap mereka tidak berbahaya, padahal aslinya mereka sedang mengusung ideologi lain yang sangat berbahaya bagi negara," ungkap SG.








Komentar