Besar Pasak Daripada Tiang, Perumda Bidadari Terus Merugi Setiap Tahun

Besar Pasak daripada Tiang

Menurut Plt. Dewan Pengawas (Dewas) Perumda Bidadari, Salvator Pinto, "Perumda Bidadari hingga saat ini belum mendapatkan keuntungan, karena dana dipergunakan untuk membiayai dirinya sendiri". "Dalam laporan keuangan Perumda Bidadari, pada neraca keuangan laba rugi belum menggambarkan adanya untung. Kondisi Perumda Bidadari yang tidak mengalami untung ini karena semua uang masih dipergunakan untuk biaya operasional dirinya", ucap Pinto. Tapi Pinto tidak menjelaskan secara detail kepada awak media ini terkait laporan keuangan tersebut, misalnya berapa biaya operasional yang telah dikeluarkan dan sebagainya.

Berbeda dengan Salvator Pinto, nara sumber lain yang kepada awak media ini meminta identitasnya dirahasiakan, mengatakan kerugian yang terus dialami Perumda Bidadari lebih disebabkan oleh managemen pengelolaan perusahan yang tidak benar. "Masa' sudah 2(dua) tahun bisnisnya hanya jadi dropship produk UMKM? Ini Perumda, bukan toko oleh-oleh, modalnya milyaran rupiah", ujar narasumber tersebut.

Lebih jauh ia pun menduga, telah terjadi pemborosan yang besar di perusahan tersebut, dimana pengeluaran tidak sebanding dengan pendapatan, atau 'besar pasak daripada tiang'.

"Karyawan di Perumda itu diperkirakan berjumlah sekitar 20 orang termasuk direktur. Kalau gaji 1 (satu) orang saja sebesar Rp. 2,1 juta (sesui UMK), belum termasuk gaji direktur, maka pengeluaran sebulan untuk gaji karyawan akan mencapai angka Rp. 42 juta. Andaikan gaji direkturnya Rp. 15 juta/bulan, maka total seluruh pengeluaran perbulan hanya untuk menggaji seluruh personil adalah sebesar Rp 57 juta. Coba Pak kalikan saja dengan 12(dua belas) bulan, maka untuk menggaji seluruh personil, Perumda ini akan mengeluarkan biaya sebesar Rp. 684 juta /tahun," terang nara sumber yang tak mau namanya dipublish itu.

Selain itu, Nara sumber tersebut juga menduga, bahwa kendaraan operasional kantor yang selama ini digunakan pengelola Perumda Bidadari adalah mobil rental.

"Pemborosan yang lain lagi ini adalah, saya dapat informasi mobil yang mereka pakai untuk untuk operasional itu bukan milik perusahaan, mereka rental itu, sekitar Rp.12 juta/bulan. Setahun Rp.144 juta. Pertanyaannya, kenapa mereka tidak beli mobil saja ketimbang harus rental? Ini kan pemborosan pak! Orang kan bisa menduga, jangan sampai ada oknum tertentu yang sengaja membiarkan hal ini terus terjadi. Tolong dicek itu pak , mobil siapa yang mereka sewa itu", ucapnya.

"Jika biaya sewa itu ditotal dengan biaya gaji karyawan yang Rp.684 juta tadi, maka menjadi Rp.828 juta kan pak !" lanjut nara sumber itu.

Dengan pengeluaran yang begitu besar, menurut sumber tersebut, "sayangnya Perumda Bidadari hanya mengandalkan pendapatan dari berjualan produk UMKM dan beberapa usaha lain yang sifatnya insidentil".

Selanjutnya 1 2 3
Penulis: Ihambut

Baca Juga